SUMBA
upacara tumpahan darah
Terletak antara Bali dan Timor, ke arah selatan Sumbawa, Sumba salah satu pulau terkecil kepulauan Sunda panjangnya 300 kilometer dengan lebar 80. Orang Sumba, berjumlah sekitar 600.000, dulu merupakan prajurit-prajurit dan tukang-tukang pemotong leher yang luar biasa. Ibukotanya, pelabuhan utama pulau itu, Waingapu, bertempat di pantura, didirikan tahun 1834 oleh seorang saudagar Arab, Syarif Abdulrahman Algadri. |
Pada masa lampau, jadi hasad para insan
lantaran kayu gaharu, kayu manis dan turangganya yang diperganduh-ganduhkan sama porselin,
permata intan dan gading. Sumba kini bukan lagi melainkan sebuah pulau melarat
dengan iklim gersang dan vegetasi yang sunyi senyap (kecuali selama musim penghujan).
Namun demikian Sumba tersohor karena megalit, tenunan ikatnya, dikenal semenjak
abad XVI dan XVII, dan perayaan tahunannya, Pasola.
Pasola (ritus pertempuran) terjadi pada tahap awal setiap tahun, saat
bulan sabit, di daerah Lamboya dan Kodi (baratdaya pulau). Bersamaan waktu dengan
cacing-cacing laut yang menjungkat jangkit pantai bagai pelanduk di dalam cerang, apa yang
para penghuni memperjamukan sebagai upacara nyale. Ratus-ratusan orang
berkuda saling berhadapan muka dengan tombak-tombak, menyusun ulang pembanterasan
prajurit-prajurit Sumba zaman baheula. Pengaduan tenaga ini, sebelumnya berbahaya
(kadangkala masih juga begini), adalah kesempatan memperagakan keperkasaan para peserta,
tapi juga tumpahkan darah agar supaya menyuburkan bumi, semacam korban untuk menyerukan
perlindungan dewata dan nenek moyang.
Ombak penjajahan yang berturut-turut konon tidak terlalu mempengaruhi orang Sumba,
tidak lebih dari agama yang mengharukan pulau sejiran. Orang-orang Katolik,
Protestan dan minoritas Islam yang kecil hadir di Sumba, akan tetapi anutan dominan yaitu Marapu.
Tempat ibadah terpenting adalah rumah, atap khasnya dalam bentuk piramida pepat itu
takhta indra. Harta benda keluarga (tekstil-tekstil hinggi, permata-permata
intan, dari mana mamuli ternama, gading) disimpan di sana maupun sesajen-sesajen,
hidangan dan sirih.
Sumba didiami sejak sediakala. Banyak megalit membuktikan hal ini, namun juga
situs pemakaman yang di Rende wilayah Melolo (bagian timur pulau), berusia 800 tahun
lebih.
Di sebelah timur Sumba, sebagian banyak perkampungan tradisional memiliki
megalit-megalit (kuburan terukir atau bukan), seperti tarung atau pasunga, ke arah timur
Waikabubak. Ke arah selatan daerah yang sama berbekas-bekas, di desa Prai Goli,
megalit-megalit paling utama pulau ini. Suatu upacara tahunan yang penting
diselenggarakan bulan oktober, di Sodan, sepanjang pesisir selatan, sekeliling tambur
kramat yang terlingkup, rupanya, dengan kulit manusia!
Sebuah dongeng purwa mengissah bahwa seberkas benang cahaya yang tidak kelihatan
melintasi pusat pulau, mengikat lapisan udara tertinggi dengan kancah samudra.
Menenun adalah perbuatan yang diharamkan di bagian tengah pulau, lantaran ada risiko sinar
cahayanya nanti binasa dan pulau Sumba bisa lenyap untuk selama-lamanya.
Sumba timur dikenal untuk barang tenun ikat dan terutama hingginya,
pakaian lelaki dengan ragam adat (ayam jantan, kuda, pohon dengan kepala orang mati,
buaya, kadal) dan dengan warna-warna nila atau coklat merah-merahan, sangat dihargai para
kolektor.
| Setiap awak tahun, baratdaya pulau Sumba bergelora gairah sewaktu Pasola. Perayaan ini menghimpunkan ratus-ratusan orang berkuda yang menyusun kembali pertempuran prajurit Sumba masa silam. | Seorang pertapa animis bersemedi pada pangkal pohon. |